Program Subspesialis

Peminatan Subspesialis

Program Studi Bedah Program Subspesialis FK Unand memuat tiga bidang peminatan: Bedah Digestif, Bedah Onkologi, serta Bedah Vaskular dan Endovaskular.

Ilustrasi prosedur bedah reseksi usus untuk bidang bedah digestif

Sejarah Program Studi 01

Subspesialis Bedah Digestif

Bidang ini mempelajari tata laksana bedah pada organ sistem pencernaan serta layanan rujukan yang memerlukan kompetensi konsultan.

IKABDI dibentuk pada 1979Pendidikan magang dimulai 1980Kolegium resmi berdiri 1998

Ketua Peminatan

Dr. dr. M. Iqbal Rivai, SpB, Subsp. B.D(K)

Ketua Peminatan Bedah Digestif

Staf Pengajar

  • dr. Ambiar Manjas, Sp.B, Subsp.BD(K)

    Ilmu Bedah, dokter/PPDS, dan pembelajaran klinik bedah digestif

  • Dr. dr. M. Iqbal Rivai, Sp.B, Subsp. BD(K)

    Ilmu Bedah, keterampilan klinik, preseptor, dan pelatihan endoskopi digestif

  • dr. Juni Mitra, Sp.b, Subsp. BD(K)

    Ilmu Bedah, dokter/PPDS, keterampilan klinik, preseptor, dan pengantar blok gastrointestinal-hepatobilier-pankreas

  • Dr. dr. Avit Suchitra, Sp.B, Subsp. BD(K)

    Keterampilan klinik, pre-clerkship, dan kegiatan deteksi dini kanker pada masyarakat

  • Dr. dr. Rini Suswita, Sp.B, Subsp. BD(K)

    Bedah digestif, colorectal surgery, dan pembelajaran klinik terkait kasus kolorektal

  • dr. Irwan, SpB Subsp. BD(K)

    Ilmu Bedah, dokter/PPDS, pre-clerkship, dan pengantar blok gastrointestinal-hepatobilier-pankreas

  • dr. Vandra Bina Riyanda SpB Subsp. BD(K)

    Pengembangan profesi bedah berkelanjutan, endo-laparoscopy, coloproctology, dan acute care surgery

Perkembangan ilmu bedah organ sistem pencernaan yang maju sangat cepat mendorong lahirnya konsentrasi keilmuan bedah digestif di Indonesia. Pada Juli 1979, para dokter spesialis bedah yang banyak menangani kasus digestif bertemu di Bali dan menyepakati perlunya pembentukan Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia (IKABDI), sekaligus membahas embrio Kolegium Ilmu Bedah Digestif Indonesia (KIBDI).

Pada fase awal, para pendiri yang memenuhi kriteria pengalaman operasi dan publikasi kasus bedah digestif memperoleh sertifikat sebagai konsultan bedah digestif. Pendidikan nonformal Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Digestif kemudian dimulai pada 1980 dengan model magang di pusat pendidikan seperti RSCM FK UI, RS Hasan Sadikin FK Unpad, dan RS dr. Soetomo FK UNAIR.

Kolegium Ilmu Bedah Digestif Indonesia resmi berdiri pada 1998 setelah proses persiapan panjang. Kolegium ini berperan menjaga mutu pendidikan melalui standar kompetensi, kurikulum, dan evaluasi akhir nasional. Karena kebutuhan pelayanan dan minat pendidikan yang tinggi, pada 2008 dibuka pusat pendidikan baru di RS dr. Kariadi FK Undip, RS dr. Wahidin Sudirohusodo FK Unhas, dan RS Prof. dr. Sardjito FK UGM.

Tim dokter bedah di ruang operasi untuk representasi bedah onkologi

Sejarah Program Studi 02

Subspesialis Bedah Onkologi

Bidang ini berfokus pada penanganan tumor solid dan tata laksana bedah kanker dalam kerja klinik multidisiplin.

Dimulai di FK UI/RSCM pada 1977PERABOI diakui pada 1984Fokus pada tumor solid

Ketua Peminatan

Dr. dr. Daan Khambri, SpB, Subsp. Onk(K), M.Kes

Ketua Peminatan Bedah Onkologi

Staf Pengajar

  • Prof. Dr. dr. Wirsma Arif Harahap, SpB, Subsp. Onk(K)

    Tata laksana kanker payudara, thyroid, parathyroid, adrenal, etik, dan palliative care

  • Dr. dr. Daan Khambri, SpB, Subsp. Onk(K), M.Kes

    Penguatan layanan onkologi bedah, diskusi kasus tumor solid, dan pembelajaran klinik multidisiplin

  • dr. Rony Rustam, SpB, Subsp. Onk(K)

    Pendampingan kasus onkologi, perencanaan tindakan bedah, dan evaluasi pasien pasca operasi

  • dr. Yopi Triputra, SpB, Subsp. Onk(K)

    Klinik tumor, komunikasi pasien kanker, dan pembelajaran berbasis kasus onkologi

  • dr. Rahmat Taufik, SpB, Subsp. Onk(K). M.H

    Tatalaksana kasus onkologi, telaah literatur, dan koordinasi layanan rujukan

  • dr. Ari Oktavenra, SpB, Subsp. Onk(K)

    Pembelajaran klinik onkologi, patient safety, dan audit kasus bedah tumor

  • dr. Hendra Herizal, SpB, Subsp. Onk(K)

    Pengembangan layanan bedah onkologi dan pembimbingan akademik berbasis kasus

Pendidikan dokter subspesialis bedah onkologi di Indonesia dimulai pada 1977 di Bagian Bedah FK UI/RSCM Jakarta. Setelah Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) diakui sebagai anak organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia pada 1984, pendidikan bedah onkologi mulai ditata sebagai pendidikan subspesialis.

Kurikulum dan proses pendidikan disusun dengan arahan Majelis Penilai Nasional/Kolegium PERABOI. Tujuannya adalah menghasilkan lulusan dengan kemampuan keilmuan akademik yang setara dengan pendidikan program S3 serta keterampilan klinis khusus dalam bidang bedah onkologi.

Ruang lingkup utama bedah onkologi mencakup penanganan tumor solid, khususnya tumor kepala dan leher, payudara, kulit, serta tumor jaringan lunak. Hingga 2018, tercatat terdapat delapan pusat pendidikan subspesialis bedah onkologi di Indonesia.

Ilustrasi tindakan endovaskular pada aneurisma pembuluh darah

Sejarah Program Studi 03

Subspesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular

Bidang ini mencakup pelayanan pembuluh darah melalui bedah terbuka, tindakan endovaskular, diagnostik, dan terapi medikamentosa.

PESBEVI berdiri pada 1996Layanan RSCM dimulai sejak 1975Program FK UI diakui pada 2014

Ketua Peminatan

dr. Vendry Rivaldy, SpB, Subsp. BVE(K)

Ketua Peminatan Bedah Vaskular & Endovaskular

Staf Pengajar

  • Dr. dr. Raflis Rustam, SpB, Subsp. BVE(K)

    Evaluasi penyakit vaskular, diskusi kasus rujukan, dan prinsip tata laksana endovaskular

  • dr. Vendry Rivaldy, SpB, Subsp. BVE(K)

    Pembelajaran klinik vaskular, tindakan minimal invasif, dan pemantauan pasien pasca tindakan

  • dr. Hippocrates Kam, SpB, Subsp. BVE(K)

    Diagnosis vaskular, interpretasi pemeriksaan penunjang, dan perencanaan terapi endovaskular

  • dr. Yudi Ichsan Ramata, SpB, Subsp. BVE(K)

    Manajemen kasus vaskular, edukasi pasien, dan penguatan jejaring layanan rujukan

Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Indonesia (PESBEVI), atau The Indonesian Society for Vascular Surgery (ISVS), didirikan pada 3 Februari 1996 sebagai wadah resmi dokter spesialis bedah vaskular dan endovaskular di Indonesia. Pada 2 Juni 1996, organisasi ini diterima sebagai anggota Asian Society for Vascular Surgery (ASVS) di Seoul, Korea.

Pelayanan bedah vaskular dan endovaskular di RSCM telah dimulai sejak akhir 1975 sebagai bagian dari layanan klinik bedah. Layanan yang pada awalnya menggunakan peralatan sederhana berkembang semakin maju, kemudian diikuti pembukaan pendidikan subspesialisasi bedah vaskular dan endovaskular di FK UI/RSCM.

Program studi ini diakui resmi di FK UI sejak 2014 sebagai salah satu program konsultan bedah. Keilmuan vaskular dan endovaskular berkembang pesat karena kemajuan tindakan minimal invasif. Dokter bedah vaskular dan endovaskular dituntut menguasai pembedahan, tindakan endovaskular, diagnostik seperti angiografi dan USG Doppler, serta pengobatan medikamentosa.

Jumlah spesialis bedah vaskular dan endovaskular di Indonesia masih terbatas, sementara kasus penyakit degeneratif seperti aterosklerosis meningkat seiring perubahan demografi dan bertambahnya populasi usia tua. Kondisi ini membuat kebutuhan tenaga ahli dan pendidik di bidang vaskular dan endovaskular semakin besar.